Selasa, 29 Januari 2013
Rabu, 02 Januari 2013
Selasa, 25 Desember 2012
"Ahad Merapat" bersama Ust. Salim A Fillah (Penulis)
Kamis, 22 Maret 2012
Semadi 12 Maret
Semadi 12 Maret
oleh Insanul Ma'ruf Cotto
Kami tak sempat tanya
Mengapa lembah jadi kuning?
Apa perlu kami carikan pawang?
Kami tak sempat lihat
Mereka sudah hilang
Apa perlu kami tabur bunga rampai?
-
Tak ada yang tersisa
Kecuali nafas yang tinggal satu satu
Kami hirup udara untuk meluruskan tulang punggung yang bengkok
Malah dingin menjalari tubuh
-
Nilai tertulis di kening manusia dan malaikat
-
Lalu kami datangi yang punya dosa
Kami tanya
Mereka jawab
Dosa kami titip anak-cucu
-
Mereka bingung
Mereka bilang kami tak punya aturan
-
Kami bisikkan dekat daun telinga mereka
Kami buat ini untuk dipandang, Tuan
Bukan untuk dimakan
-
Mereka tertawa sampai setandan gigi matang
Terertawa sampai lupa besok mau mati
Lalu murung
Kemudian geram
Ngana permainkan torang punya perasaan
-
Ahh..! Mati sajalah kau lagi..!
-
Tak perlu risau akan makna, Tuanku
Ini bukan kitab suci
Tak perlu bingung dimana pesan
Ini bukan sabda nabi
(12 Maret 2012 – 10.24 am)
Kamis, 08 Maret 2012
Eks
Cerpen Insanul Ma’ruf
“Aku tak pernah punya ibu, Ye.”
“Apa maksudmu tak pernah punya ibu?”
Lelaki itu menanggapai dengan pandangan lurus menelusuri lautan.
“Ayah? Kau punya?”
“Sudahlah, Ye. Sebaiknya kamu pulang, tak baik wanita rumahan sepertimu keluyuran selarut ini.”
“Hey, aku bukan wanita rumahan.”
Pemuda bermata tajam itu tak lagi menanggapi. Disandangnya tas ranselnya dan berlalu tanpa pamit. Gadis itu mengiringi.
“Hey, apa kau punya rumah?”
Dijawabnya dalam hati, ‘pertanyaan konyol.’
“Boleh aku main ke rumahmu?”
Pemuda itu tak menanggapi. Mata dan perasaannya menerawang jauh menerobos deretan rumah susun dan gang-gang sempit.
“Malam ini aku nginap di rumahmu ya?” Dia memancing.
“Jangan main-main, Ye.”
“Aku serius.”
Lelaki itu menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu tajam-tajam. Seakan mengisyaratkan bahwa -- aku bukan lelaki yang seenaknya mengizinkan wanita masuk ke rumahku, baru kenal pula.
Mahasiswi berrambut lurus dan berponi itu paham, tapi tetap tak mau mundur. Rasa penasarannya lebih kuat dari tatapan pemuda itu.
“Aku antar kamu pulang.”
“Kamu mau antar pake apa? Jalan kaki? Kalau aku mau pulang, aku bisa sendiri, tak perlu repot-repot.”
“Mau kamu apa?” Lelaki itu mulai jengkel lagi dengan gadis ini.
“Aku cuma mau main ke rumahmu, itu saja.”
“Sudah hampir tengah malam, orangtuamu pasti cemas, pulanglah!”
“Ok, aku pulang. Tapi besok aku ke rumahmu, pagi-pagi.”
“Terserah.”
Gadis belia itu tersenyum puas.
“Hey, aku tak tahu alamatmu.” Setengah berteriak gadis itu menuntut.
Lelaki itu berlalu dan meninggalkannya di simpang jalan.
Rabu, 18 Januari 2012
Senin, 12 Desember 2011
Misteri Hati
-->Cerpen Irja Nasrulloh
Sungguh aku masih muak dengan diriku sendiri! Kenapa harus kulalui jalan panjang yang bercecabang itu?! Aku muak dengan trinitania! Organisasi misionaris mahasiswa terselubung itu, sebab daripada perkenalanku dengan Julia. Organisasi itu pulalah yang telah menyebabkanku merana! Konyol!
Kuterduduk di kursi balkon. Sarung kotak-kotak Gajah Duduk masih menutupi rahasiaku. Sesekali angin sore membelai-belai sarungku, membuat dalamku terasa sejuk. Kubiarkan badanku yang hanya dibalut singlet, menghadap matahari tenggelam. Kubuka injil lusuh yang kubawa dari Indonesia dulu, terbitan lembaga Alkitab Indonesia. Ada bagian yang kutandai di sana, di mana sebuah ayat di Injil Roma 5: 12, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang (Adam), dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Kupijit-pijit kepalaku yang agak nyut-nyutan oleh memori kelam beberapa tahun lalu. Ayat tersebut melemparkanku pada sebuah bencana hidup yang kini masih terus merongrong palung hati. Aku harus berpisah dengan Julia, mahkota dunia. Dasar ayat pembawa petaka!
Langganan:
Entri (Atom)





